Skip to main content

Profesi Notaris Menjanjikan

Sejak berkuliah di program Sarjana Ilmu Hukum, Adit sudah memantapkan diri untuk melanjutkan studi di Magister Kenotariatan. Dengan mengambil program ini, ia sudah memutuskan untuk menjadi seorang Notaris. Untuk itu, meski masih duduk di semester IV, Adit berusaha keras untuk menyelesaikan studi sarjananya.

Dua tahun kemudian, ia pun lulus sebagai sarjana dan langsung melanjutkan studi sesuai impiannya. Niatnya menjadi Notaris semakin terbuka lebar. Ia lebih menyukai pendidikan studi kenotariatan dibanding Pascasarjana Hukum. Baginya, profesi Notaris sangat menjanjikan dan dapat menjamin hari tuanya.

Pemikiran Adit tentang Notaris mungkin hampir sama dengan mahasiswa Hukum maupun masyarakat umum. Notaris merupakan profesional yang menjalankan tugas dan fungsi sebagai pembuat akta-akta autentik. Ada anggapan bahwa kerja Notaris itu “tinggal tanda tangan, dapat uang”.

Anggapan yang masih melekat di masyarakat inilah yang memandang Notaris sebagai profesi yang menjanjikan. Padahal, persyaratan untuk menjadi Notaris tidaklah mudah. Di sisi lain, kerja Notaris juga tidak sekadar membuat akta dan menandatanganinya, tetapi kerja Notaris harus berlandaskan moral, serta ada Undang-undang dan kode etik yang mengatur kerja Notaris.

Lalu, mengapa Notaris bisa menjadi profesi yang menjanjikan? Dilihat dari status profesinya, Notaris merupakan pejabat umum yang diangkat oleh pemerintah, dalam hal ini Menteri/Kementerian Hukum dan HAM RI. Karena sebagai pejabat, maka Notaris adalah kepanjangan tangan pemerintah dalam melayani masyarakat di bidang pembuatan akta autentik.

Walaupun bertitel pejabat, Notaris tidak digaji oleh Negara. Ini disebabkan, status pejabat Notaris adalah pejabat umum, atau lebih tepat disebut profesi, bukan benar-benar pejabat publik atau pejabat tata usaha negara. Pendapatan Notaris murni dari honor yang diterima pada saat menjalankan kewenangannya.

Terkait honor, tidak ada ketentuan besaran ketetapan honor yang diajukan oleh Notaris. Bahkan, antara satu Notaris dan Notaris lain di wilayah yang berbeda bisa jadi berbeda honornya. Notaris senior dengan Notaris muda juga bisa beda honornya.

Setiap akta yang dibuat juga bisa berbeda biayanya, karena setiap urusan yang dibuatkan aktanya oleh Notaris hampir dipastikan tidak pernah sama. Namun, yang perlu ditekankan, Notaris tidak diperkenankan mematok biaya yang melebihi beban kerja yang dilakukan.

Selain itu, Notaris harus berintegritas dengan profesinya dan mau membantu masyarakat yang membutuhkan namun tidak memiliki biaya untuk membayarnya.

Anggapan menjanjikan lain terlihat dari beban kerja yang dimiliki Notaris. Berbeda dengan profesional hukum lainnya, seperti advokat, hakim, atau jaksa, Notaris menjadi profesi hukum yang tidak terlalu “keras”. Dalam artian, perbuatan hukum yang dilakukan Notaris tidak selalu berurusan dengan perkara dan meja hijau.

Ada momentum dimana Notaris bisa berurusan dengan meja hijau. Tetapi, di luar itu, kerja Notaris benar-benar turun ke masyarakat, menghasilkan kepastian hukum kepada kliennya dalam bentuk dokumen autentik, serta mampu membangun kepercayaan bahwa Notaris adalah profesi hukum yang mampu menegakkan keadilan dan kejujuran.

 

You may also like