Profesi Notaris dalam Perspektif Islam

Menjadi seorang Notaris dalam benak orang adalah profesi yang menjanjikan. Sebagian besar orang berpikir bahwa dengan menjadi Notaris, setidaknya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemapanan. Atau mungkin ada pula yang berpikir bahwa Notaris, selayaknya Advokat, kebal terhadap hukum.

Tapi, secara dasar, Notaris merupakan profesi yang langsung melayani masyarakat. Publik, baik masyarakat maupun pemerintah, adalah klien yang harus diberikan pelayanan maksimal oleh Notaris dalam hal pembuatan akta-akta autentik. Pemberian pelayanan maksimal oleh Notaris dilakukan sebagai wujud implementasi sumpah jabatan yang diucap.

Profesi Notaris dalam Perspektif Islam

Nah, bagaimana fungsi seorang Notaris jika dilihat dalam perspektif Islam? Ternyata, berbagai tugas dan wewenang Notaris secara eksplisit merupakan penjabaran dalam ayat-ayat Alquran. Di QS Al Baqarah ayat 282, Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.

Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.

Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat di atas secara eksplisit menjelaskan tentang tugas dan kewenangan Notaris. Seruan “menuliskan praktik muamalat” diimplementasikan sebagai kewenangan Notaris dalam membuat akta autentik terkait praktik jual beli/muamalat yang melibatkan dua pihak.

Pemaknaan lain akan praktik “muamalah tidak secara tunai” direpresentasikan akan proses utang piutang antara debitur kepada kreditur. Situasi ini menjadi suatu kewenangan seorang Notaris dan PPAT, dalam hal pembuatan hak tanggungan debitur kepada seorang kreditur.

Potongan terjemahan ayat selanjutnya, berbunyi:

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil

Potongan ayat tersebut, diimplementasikan pada saat penandatanganan akta autentik di hadapan Notaris yang wajib melibatkan saksi-saksi.

Sebenarnya, masih banyak lagi ayat-ayat dalam Alquran yang secara tidak langsung menjelaskan profesi Notaris. Yang terpenting, porfesi Notaris sejatinya tidak bertentangan dengan agama. Asalkan profesi tersebut dijalankan dengan penuh amanat dan kejujuran.

Notaris Cimahi Terms:

  • hukum bekerja sebagai notaris

Comments are closed.